Sabtu, 30 April 2011

KURIKULUM


A.    Pengertian Kurikulum
1.      Secara Etimologi
           Secara etimologis kurikulum berasal dari bahasa yunani yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Istilah kuriklum berasal dari dunia olah raga pada zaman romawi kuno di yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yan harus ditempuh oleh pelari dari dgaris star sampai garis finis.[1]

2.    Secara Terminologi
Para ahli telah banyak mendefinisikan kurikulum diantaranya:
    1. Corow and crow, mendefinisikan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untk memperoleh ijazah.
    2. M. Arifin, memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kepndidikan dalam suatu sistem istitusional pendidikan.
    3. Zakiah Daradjat, memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.
    4. Dr. Addamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamil yang disitir oleh Al-Saybani bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh kepala sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.[2]

Jadi dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan pengertian kurikulum adalah suatu perencanaan yang sistematis yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, serta evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapai tujuan pendidikan.

B.     Komponen Kurikulum
Komponen kurikulum meliputi[3] :
1.      Tujuan Kurikulum
Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu Setiap tujuan tersebut minimal ada tiga domain yaitu domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2.      Isi Kurikulum
Berupa materi pembelajaran yang diprogram untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Materi tersebut disusun kedalam bentuk silabus, dan dalam mengaplikasikannya dicantumkan dalam satuan pembelajaran dan rencana pembelajaran.
3.      Media ( Sarana dan Prasarana )
Media sebagai sarana perantara dalam pembelajaran untuk menjabarkan isi kurikulum agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik. Media tersebut berupa benda dan non benda.
4.      Strategi
Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta teknik mengajar yang digunakan.
5.      Proses Pembelajaran
Melalui proses pembelajaran akan terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan kurikulum.
6.      Evaluasi
Dengan evaluasi (penilaian) dapat diketahui cara pencapaian tujuan.


C.     Prinsip Pengembangan Kurikulum
Agar kurikulum dapat berfungsi sebagi pedoman maka ada sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya.
1.      Prinsip Relevansi
Kurikulum merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa agar dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakat serta membekali siswa baik dalam bidang pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat. Oleh sebab itu pengalaman-pengalaman belajar yang disususun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan prinsip Relevansi.
2.      Prinsip Fleksibelitas
Apa yang diharapkan dalam kurikulum ideal kadang-kadang tidak sesuai  dengan kondisi kenyataan yang ada. Bisa saja ketidak sesuaian itu ditunjukan oleh kemampuan guru yang kurang latar belakang atau kemampuan dasar siswa yang rendah, atau mungkin sarana dan prasarana yang ada disekolah tidak memadai.kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan dengan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.
Prinsip fleksibelitas memiliki dua sisi: Pertama, fleksibel bagi guru yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa, artinya kuriulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.
3.      Prinsip Kontinuitas
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa perlu dijaga sealing keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi pelajaran perlu dijaga agara apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi  pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya. Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agara tidak terjadi pengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program pengajaran tidak efektif dan efisien, akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
4.      Efektifitas
Prinsip efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektifitas dalam suatu pengembangan kurikulum. Pertama, efektifitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Kedua, efektifitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Efektifitas kegiatan guru berhubungan dengan keberhasilan mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disesuaikan. Efektifitas kegiatan siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu.
5.      Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Betapapun bagus  dan idealnya suatu kurikulum manakala menuntut peralatan, sarana dan prasarana yang sangat khusus serta mahal pula harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.[4]



[1] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Ananlisa Psikologi Pendidikan. (Jakarta : Pustaka Al-Husna), 1986. hal : 176
[2] HM. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Aksara), 1991. Hal : 183
[3] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia).2006. Hal: 153
[4] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Kencana).2008. Hal: 39

Tidak ada komentar: